sejak saat itu, aku tau dimana keabadian, hati dan jiwa kita terbaring
menjadi jelas bagiku berbagi kebersamaan dan waktu selama bertaun-taun
namun, melihat waktu kedepan
akan sangat pedih terasa
kehangatan jiwanya
bagaimana akan memperlakukannya dan akan ku bawa kemana?
itu adalah sesuatu yang tidak aku ketahui
bahwa kami setelah ini akan berpisah untuk waktu yang lama
kenyataan yang jelas-jelas terpampang
kehidupan yang yang luas dan waktu yang tak terbatas
tak terelakan terbentang diantara kita
namun, kegelisahan akan segera meleleh
dan setelah itu hanya akan ada rasa rindu
malam itu kita berbagi selimut dan sekedar bercerita menghabiskan malam
sampai tak sadarkan kita terlelap
pagi datang, semuanya harus kembali seperti semula
kita berpisah.
yang terpikirkan, untuk beberapa alasan
kita akan bersama lagi
ketika waktunya tiba
bukan hanya jarak yang memungkinkan kita
sekedar naik kereta atau pun garuda
hanya untuk sedekar bertemu satu sama lain
dibandara ataupun station.
brahmanda sandie
Minggu, 15 Februari 2015
Jumat, 13 Februari 2015
Valentine Day's
Kartu Valentine Kuno
Valentine Days disebut juga Hari kasih sayang/ hari Santo Valentinus. (kata Santo berarti "orang suci")
dirayakan hampir diseluruh negara, gereja ortodok timur, anglikan, gereja lutheran.
kegiatan ini merupakan sebuah budaya, identik dengan kriten dan komersial.
bermakna hari kasih sayang dan hari Santo Valentinus.
tanggal kegiatan 14 febuari (gereja katolik) dan 7 juli (gereja ortodoks)
mengisi kegiatan dengan saling bertukar kartu dan hadiah, berkencan, layanan gereja.
Sejarah
Menurut tarikh kalender Athena kuno, periode antara pertengahan Januari dengan pertengahan Februari adalah bulan Gamelion, yang dipersembahkan kepada pernikahansuci Dewa Zeus dan Hera.
Di Roma kuno, 15 Februari adalah hari raya Lupercalia, sebuah perayaan Lupercus, dewa kesuburan, yang dilambangkan setengahtelanjang dan berpakaian kulit kambing. Sebagai bagian dari ritual penyucian, para pendeta Lupercus meyembahkan korban kambing kepada sang dewa dan kemudian setelah minum anggur, mereka akan lari-lari di jejalanan kota Roma sembari membawa potongan-potongan kulit domba dan menyentuh siapa pun yang mereka jumpai. Terutama wanita-wanita muda akan maju secara sukarela karena percaya bahwa dengan itu mereka akan dikarunia kesuburan dan bisa melahirkan dengan mudah.menurut ensiklopedia katolik nama Valentinus setidaknya merujuk tiga martir atau santo (orang suci) yaitu seorang pastor roma, uskup iteramna dan seorang martir diprovinsi romawi afrika.
Koneksi antara ketiga martir ini dengan hari raya cinta romantis tidak jelas. Bahkan Paus Gelasius I, pada tahun 496, menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada yang diketahui mengenai martir-martir ini namun hari 14 Februari ditetapkan sebagai hari raya peringatan santo Valentinus.[3] Ada yang mengatakan bahwa Paus Gelasius I sengaja menetapkan hal ini untuk mengungguli hari raya Lupercalia yang dirayakan pada tanggal 15 Februari.
Sisa-sisa kerangka yang digali dari makam Santo Hyppolytus dia Via Tibertinus dekat Roma, diidentifikasikan sebagai jenazah St. Valentinus. Kemudian ditaruh dalam sebuah peti emas dan dikirim ke gereja Whitefriar Street Carmelite Church di Dublin, Irlandia. Jenazah ini telah diberikan kepada mereka oleh Paus Gregorius XVI pada 1836. Banyak wisatawan sekarang yang berziarah ke gereja ini pada hari Valentine, di mana peti emas diarak-arak dalam sebuah prosesi khusyuk dan dibawa ke sebuah altar tinggi. Pada hari itu sebuah misa khusus diadakan dan dipersembahkan kepada para muda-mudi dan mereka yang sedang menjalin hubungan cinta.
Hari raya ini dihapus dari kalender gerejawi pada tahun 1969 sebagai bagian dari sebuah usaha yang lebih luas untuk menghapus santo-santa yang asal usulnya bisa dipertanyakan dan hanya berbasis legenda saja. Namun pesta ini masih dirayakan pada paroki-paroki tertentu.
Era abad pertengahan
Catatan pertama dihubungkannya hari raya Santo Valentinus dengan cinta romantis adalah pada abad ke-14 di Inggris dan Perancis, di mana dipercayai bahwa 14 Februari adalah hari ketika burung mencari pasangan untuk kawin. Kepercayaan ini ditulis pada karya sang sastrawan Inggris pertengahan ternama Geoffrey Chaucer pada abad ke-14. Ia menulis di cerita Parlement of Foules (Percakapan Burung-Burung) bahwa
-
- For this was sent on Seynt Valentyne's day ("Untuk inilah dikirim pada hari Santo Valentinus")
- When every foul cometh there to choose his mate ("Saat semua burung datang ke sana untuk memilih pasangannya")
Pada zaman itu bagi para pencinta sudah lazim untuk bertukaran catatan pada hari ini dan memanggil pasangan mereka "Valentine" mereka. Sebuah kartu Valentine yang berasal dari abad ke-14 konon merupakan bagian dari koleksi pernaskahan British Library di London.[4] Kemungkinan besar banyak legenda-legenda mengenai santo Valentinus diciptakan pada zaman ini. Beberapa di antaranya bercerita bahwa:
- Sore hari sebelum Santo Valentinus akan gugur sebagai martir (orang suci dalam ajaran Katolik), ia menulis sebuah pernyataan cinta kecil yang diberikannya kepada sipir penjaranya yang tertulis, "Dari Valentinusmu".
- Ketika serdadu Romawi dilarang menikah oleh Kaisar Claudius II, santo Valentinus secara rahasia membantu menikahkan mereka.
Pada kebanyakan versi legenda-legenda ini, 14 Februari dihubungkan dengan keguguran sebagai martir.
Hari Valentine pada era modern
Hari Valentine kemungkinan diimpor oleh Amerika Utara dari Britania Raya, negara yang mengkolonisasi daerah tersebut. Di Amerika Serikat kartu Valentine pertama yang diproduksi secara massal dicetak setelah tahun 1847 oleh Esther A. Howland (1828 - 1904) dari Worcester, Massachusetts. Ayahnya memiliki sebuah toko buku dan toko peralatan kantor yang besar dan ia mendapat ilham untuk memproduksi kartu dari sebuah kartu Valentine Inggris yang ia terima. (Semenjak tahun 2001, The Greeting Card Association setiap tahun mengeluarkan penghargaan "Esther Howland Award for a Greeting Card Visionary".)
(sumber. wikipedia)
Dari Sudut Pandang Islam (Qur'an dan Sunnah)
“Barang siapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut, ” Demikian bunyi hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Tirmidzi.
Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah juga berkata, “Memberi selamat atas acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati bahwa perbuatan tersebut haram. Semisal memberi selamat atas hari raya dan puasa mereka, dengan mengucapkan, “Selamat hari raya!” dan sejenisnya. Bagi yang mengucapkannya, kalau pun tidak sampai pada kekafiran, paling tidak itu merupakan perbuatan haram. Berarti ia telah memberi selamat atas perbuatan mereka yang menyekutukan Allah. Bahkan perbuatan tersebut lebih besar dosanya di sisi Allah dan lebih dimurkai dari pada memberi selamat atas perbuatan minum khamar atau membunuh. Banyak orang yang kurang mengerti agama terjerumus dalam suatu perbuatan tanpa menyadari buruknya perbuatan tersebut. Ia telah menyiapkan diri untuk mendapatkan kemarahan dan kemurkaan Allah. ”
Allah SWT sendiri di dalam Qur’an surat Al-Maidah ayat 51 melarang umat Islam untuk meniru-niru atau meneladani kaum Yahudi dan Nasrani, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim." Wallahu'alam bishawab.
(sumber. eramuslim.com)
Jumat, 09 Januari 2015
Do and Reward
Melanjutkan
postingan sebelumnya tentang mengapa kita (masyarakat) mempunyai mental “Do and
Reward”. Saya baru menyadari bahwa mental ini bisa menjadi slah satu penybab
bangsa kita dengan mudah dibohongi dan dimanfaatkan, mental yang selalu
berdasar pada hasil akhir ini telah kita pelajari atau orang lain ajarkan dari
semenjak kita balita. Pesan bawah sadar yang akan selalu menempel di otak kita
sampai kapan pun jika kita tidak berusaha meninggalkannya. Kata Do dan Reward
yang dalam bahasa Indonesia berarti “lakukan dan penghargaan” memang tidak
terdengar merusak bahkan mungkin sebagian orang berfikir ya.. harus seperti
itu, ketika melakukan apa pengharggaan buat kita??
Tidak
akan merusak apabila kita sebagai orang tua atau sebagai masyarakat yang
mengetahui tidak langsung menekankan apa yang kita dapat setelah semuanya
selesai, tapi ajarkan tentang tanggung jawab, hak ddan kewajiban. Kita akan
melakukan hal tersebut tanpa harus memikirkan apa yang kita dapat, tapi kita
memang harus melakukannya karna itu tanggung jawab saya, itu kewajiban saya dan
nanti saya akan mendapatkan hak saya.
Contoh
kecil bagaimana mental “Do and Reward” ini bekerja semenjak kita balita, kita
sering menjumpai percakapan orang tua dengan anaknya, misalkan “nak tolong
belikan ibu beras nanti ibu kasih uang”. Saya pikir apabila anak sudah paham
betul bagaimana menjadi seorang anak dia tidak akan pernah menolak ketika orang
tua menyuruhnya, seringnya anak menolak, jadi orang tua mengambil jalan pintas
dengan memberinya penghargaan atas apa yang anak lakukan untunya yaitu “uang”.
Salahkah melakukan hal itu?? Tidak selalu memang, tapi bukan cara terbaik untuk
mendidik anak, dikemudian hari anak akan terus meminta apa yang saya dapat
ketika ibu/bapa menyuruh saya? Ini akan menjadi masalah ketika orang tua tidak
bisa memberinya reward dalam bentuk fisik. Disinilah pentingnya orang tua yang
cerdas dan paham bagaimana mengajarkan anaknya hak dan kewajiban seorang anak
dan orang tua, mengajarkan bagaimana agama kita (muslim) mengatur semua itu. Jadi
ketika anak diminta untuk melakukan sesuatu untuk orang tuanya mereka tidak
akan menolak (selama suruhan itu baik) dan mereka tidak akan berfikir setelah
ibu/bapa menyuruh saya, apa yang saya dapat? Tapi mereka memahami bahwa seperti
inilah saya menjadi seorang anak yang berbakti dan menghargai orang tua saya
inilah kewajiban saya sebagai anak dan memang itulah hak sebagai orang tua.
Setelah mereka (anak) paham semua itu tidak diharamkan untuk orang tua
memberinya reward atas yang mereka lakukan, namun harus tau kapan waktu yang
tepat.
Islam
mengajarkan semuanya tentang kehidupan manusia yang terdapat di Al-Quran dan
Al-Hadist, kedua kitab inilah yang seharusnya menjadi tolak ukur seorang
muslim. Apakah islam mengajarkan masalah Do and reward?? Ya, tapi sebelum itu
kita diberi tau bagaimana menjadi manusia yang baik dan benar, semuanya ada di
Al-Quran, mengapa tidak membukanya dan kemudian mengkaji jika memang ingin
menjadi sebenarnya manusia. Pengetahuan tentang agamalah yang seharusnya
menjadi pondasi untuk mendidik dan bagaimana berbuat. Pengetahuan yang mendalam
tentang agamalah yang juga bisa menjaga kita dari kerusakan-kerusakan mental,
menjaga kita tetap pada jalur yang benar.
Jangan
sekali-kali merusak keindahan beragama dan beribadah dengan iming-iming hadiah,
surga, bidadari atau harta yang berlimpah. Tapi sekali lagi, inilah yang
terjadi, bahwasannya beribadah (menyembah) telah kita campuri dengan bumbu
layaknya bisnis, yang selalu berbicara untung dan rugi. Sering mendengar
apabila laki-laki solat dimesjid (berjamaah) akan mendapatkan pahala 27 derajat
daripada yang solat sendiri yang hanya 1 derajat?? Atau ketika anda menderita penyakit tertentu
kemudian anda berjuang sampai akhirnya meninggal pahalanya sama dengan
berjihad? Itu sering sekali diperdengarkan dipengajian-pengajian, khotbah dan
tempat2 lain. Tapi satu pertanyaan saja tentang fenomena tersebut, kenapa harus
memperhitungkan pahala, derajat atau keuntungan?? Allah bukan CEO atau presiden
direktur yang hanya melihat dari sisi profit, tapi Dia melihat keikhlasan,
ketulusan dan kecintaan manusia sebagai hamba kepada tuhannya.
Tidak
salah apabila solat berjamaah dimesjid itu lebih baik daripada solat sendiri
dirumah, tapi haruskah dengan iming2 pahala?? Sedangkan yang saya tau dan mengerti
dari mulai takbir sampai salam tidak ada bacaan yang membicarakan tentang
pahala. Solat bukan berdoa, tapi bentuk penyembahan seorang hamba kepada
tuhannya. Esensi dari penyembahan itu yang seharusnya sebagai seorang muslim
pelajari, yaitu penggabungan dari rasa kecintaan paling tinggi, rasa takut
paling tinggi dan kepasrahan yang paling tinggi itulah sembahyang, bukan
pahala, surga, bidadari atau derajat. Jadi ketika kita menyuruh seseorang untuk
sembahyang dimesjid cari&beri tau cerita apa yang terjadi dulu ketika zaman
Rosulullah laki-laki diharuskan kemesjid dan yang paling penting belajarlah
ilmu Tauhid. Jika anda tau bahwa surga&neraka itu tidak ada apakah anda
akan tetap solat, mengaji dan berbuat baik?? Bahkan sisi yang paling ngeri
adalah “jika anda melakukan ibadah, berbuat baik bahkan berjihad di jalan Allah
tapi Tauhid anda rusak, maka rusaklah semua amal&ibadahnya”. Jadi mengapa
harus menunda mempelajarinya??
Sobat,
agama bukanlah hal yang harus diperbincangkan masalah untung dan rugi, bukan masalah
Do and Reward tapi masalah yakinkah apa yang kita lakukan ini hanya untuk-Nya??
Mengharap ridho-Nya? Mental untung rugi dan Do and Reward tidak terasa sudah
hinggap dalam diri kita sejak lama. Masalah keluarga, masalah hubungan dan
masalah bangsa ini bukan orang lain yang tidak mengerti, anak yang bandel dan
susah diatur atau pemerintah yang tidak becus, tapi apakah kita pernah melihat
diri kita seperti apa, mengajarkan apa dan berbuat apa?? Baguskah diri kita
dimata-Nya?
Finishing
Kesepakatan
akan muncul dari pemahaman bersama. Pemahaman bersama muncul dari
kalimat-kalimat yang memberi ruang untuk orang lain menceritakan sudut
pandangnya. Tentu kesediaan untuk mendengarkan dan empati untuk membayangkan
seandainya kita dalam posisi orang lain, menjadi sesuatu yang mutlak diperlukan
dalam percakapan yang baik dan bermutu.
Terkadang
memiliki empati atau niat baik, tanpa kepiawaian berkomunikasi sangat mungkin
maksud baik kita akan disalah artikan dan membuat permasalahan justru semakin
rumit. Pilihan kata yang kita gunakan yang digunakan saat berkomunikasi sangat
menentukan sebuah percakapan akan menjadi efektif atau tidak. Kata “kamu harus..” terkesan memaksa,
otoriter, keras dan tidak memberi ruang bagi lawan bicara untuk mengungkapkan
pendapatnya. Akan lebih enak didengar dan bisa diterima jika menggantinya
dengan kata “kamu sebaiknya..” kata
tersebut lebih lembut dan terkesan bersimpati. Akan lebih baik lagi jika
mengatakan “bagaimana menurut anda..”
kalimat ini akan membuka pembicaraan dan pendapat orang lain serta mengajak
orang lain terlibat aktif dalam memikirkan pemecahan masalah.
Tidak
harus jenius untuk berhasil diberbagai percakapan sulit meskipun dengan
orang-orang sulit sekalipun. Hanya perlu berusaha memahami orang lain dalam
meliha masalah dari sudut pandang masing-masing. Pemahaman bisa didapatkan
dengan cara mendengarkan cerita orang lain. Setiap orang mempunyai versinya
sendiri, memiliki nilai-nilai dan ukurannya sendiri, memiliki perasaan dan
interpretasinya sendiri. Kita tidak akan pernah bisa memahami orang lain, jika
kita tidak pernah memulainya dengan kalimat “ ayo kita bicarakan masalahnya bersama..”
Minggu, 04 Januari 2015
IMMORTAL
Ketika sang surya
menenggelamkan
Disaat itulah hadirmu
Menunjukan aslimu,
tajimu dan pesonamu
Orang disekitarmu tak
pernah peduli dengan hadirmu
Mereka tau tapi tak
pernah menyapa, mereka membenci
Namun kamu selalu tau
bagaimana menyapa
Terkadang datang
dengan bentuk dan cara yang unik
Abadi mengikuti
Abadi mendampingi
Abadi mempengaruhi
Hai, Jiwa yang
terkutuk
Raga yang selalu
berapi-api
Takdir tidak akan
melepaskanmu dari derita
Abadi terkutuk
Abadi membara
Abadi menjadi jiwa
tersesat.
(Curug Apid,
4-1-2015)
Gossip
Pagi
terduduk dikursi depan memegang remote berharap dapat menonton acara tv yang
menarik. Jangan salah sangka, saya tidak banyak menonton tv kecuali berita,
movies dan olahraga terlebih dipagi hari. Tv menyala langsung disambut
presenter infotaiment (gossip), what?? Pagi-pagi udah nongol aja tuh gossip.
Secangkir kopi sebatang rokok ditemani acara gossip why not?
Memang
bukan kali ini saja saya melihat acara gossip pagi, karena acara semacam ini
sudah menyaingi bahkan mungkin lebih penting dari sebuah berita yaitu
ditayangkan 3x sehari (minum obat kali), dengan efek samping setelah menonton
acara tadi adalah mulut meracau, emosi yang tidak stabil dan berhalusinasi.
Tidak
pernah habis pikir mengapa kehidupan mereka (selebritis) yang kebanyakan jauh
dari menginspirasi terus ditayangkan hanya untuk uang dan popularitas serta
mereka yang bangga kehidupan pribadinya diexspose dan jadi konsumsi umum.
Masyarakat kita yang rata-rata berfikir konsumtif dan profit menambah popular
acara tersebut (hampir semua ststion tv) memiliki acara seperti itu. Pikiran masyarakat
yang berfikir kehidupan yang layak itu adalah popular banyak uang dan hura-hura
sedikit-sedikit merusak mental mereka sendiri.
Setiap
acara bahkan iklan menyimpan pesan yang tidak bisa dilihat dengan kasat mata
dan itu cenderung kepada alam bawah sadar kita sebagai penonton. Hanya
sepersekian detik saja pesan alam bawah sadar itu disampaikan tapi sangat
berpengaruh dengan tanpa sadar kita akan melakukan hal yang disampaikan pesan
tadi. Sebagai contoh pesan bawah sadar dari acara gossip adalah bahwa hidup
sebagai selebritis itu enak, kaya raya dan sepertinya mudah. Sehingga
sedikit-sedikit paham itu menempel dalam pikiran penonton tanpa mereka sadari.
Parah,
satu kata saja yang bisa saya ungkapkan untuk kejadian ini, yaitu justru banyak
penonton dari acara ini adalah anak-anak dibawah usia 15 tahun atau dalam usia
sekolah (SD dan SMP). Bukan hanya itu saja, sosok idola mereka sendiri dari
kalangan seleb adalah masih dalam usia anak-anak. Anak kecil yang menjadi
public pigur merupakan sebagai dampak dari kurang sadarnya orang tua akan
tumbuh kembang anak mereka sendiri hak-hak mereka terampas begitu saja. Sebagai
contoh Baim, Mancung, dan anak-anak lain yang sudah dipaksa dieksplor diusia
mereka yang masih sangat muda.
Perkembangan-perkembangan
mereka terganggu seperti perkembangan afektif, kognitif, moralitas dan
perkembangan kepribadian bahkan perkembangan keagamaan mereka terganggu secara
mendasar. Seharusnya dalam usia seperti itu mereka dilindungi dari pengruh luar
disini kita akan mudah menemukan anak-anak yang dewasa lebih cepat, bukan dalam
pola pikir tapi dalam angan-angan dan life stlye. Miris dan kasihan seharusnya
mereka mendapat pendidikan dan menjadi tanggung jawab penuh orang tua sekarang
mereka harus dipaksa kehilangan masa kecilnya gara-gara jadwal syuting dan sesi
foto lebih sedihnya adalah bahwa orang tua mereka sendiri cenderung senang
dengan rutinitas anaknya.
Acara
pencarian bakat, sinetron dan reality show atau fasilitas you tube menjadi
sebagian jalan untuk meraih jalan popularitas. Iya memang banyak anak-anak
Indonesia yang bertalenta luar biasa tapi haruskah mereka diekspos diusia
semuda itu? Mereka belum mengatahui apapun diluar sana, kemana orang tua mereka
yang harusnya melindungi mereka?? Kemana pendidikan moral yang katanya
diajarkan? Benarkah tumbuh kembang mereka secara psikologis itu sesuai dengan
usia mereka?? Atau kah alasan kuat mereka lebih dipertaruhkan dengan
perkembangan buah hati mereka sendiri?? Aji mumpunglah, karena berasal dari
keluarga tidak mampulah. Pantas saja Negara kita tidak pernah menemukan lagi
sosok darah muda yang matang dan bermental baja, karena semenjak mereka kecil
mereka sudah diajarkan dengan mental DO and REWARD. What The Fuck.
(CurugApid,
3-1-2015)
We Choose, We Know What the Risk
Kita
bisa memaafkan bahkan satu detik setelah dia melakukan kesalahan tanpa harus
ada pemberitahuan permintaan maaf. Tapi tidak semua orang bisa melakukan hal
tersebut. Seringnya kesalahan dan kebodohan masa lampau hanya untuk diungkit
dan jadi bahan olok-olok. Pantaskah untuk seseorang yang ingin membangun
hubungan yang sehat dan serius kejenjang berikutnya melakukan hal tersebut?
Terkadang
saya berfikir, hal bodoh bisa dilakukan siapapun untuk membuktikan adanya cinta
dan perasaan, bahkan hal memalukan pun bisa dilakukan tanpa terkendali. Mengapa
semua ini harus didebatkan dan terus diungkit. Setiap orang mempunyai sisi-sisi
yang lain tidak diketahui tapi harusnya diketahui. Mungkin dengan melihat sisi
lain atau dengan sudut pandang yang berbeda kita akan mengerti mengapa
seseorang melakukan hal bodoh dan memalukan.
Berkata
“maaf karena saya telah melakukan hal bodoh” tidaklah semudah yang terpikir,
kita harus mengalahkan sifat ego kita untuk mengatakan “maaf”, kita harus mengalahkan
rasa benar kita atas peristiwa yang terjadi dari sudut pandang kita sendiri dan
mencoba menyelami sudut pandang orang lain yang merasa dipermalukan. Haruskah
dan pantaskah seseorang itu berkata bahwa kamu meminta maaf tidak dengan tulus
(sungguh-sungguh)? Kita tidak akan pernah tau hati seseorang, yang harus kita
pahami adalah menerima dan mempercayainya bahwa itu sungguh-sungguh. Sanggupkah
melanjutkan hubungan bila semua masalah dan kesalahan terus kembali dibuka
hanya untuk memuaskan amarah atau terpengaruhi orang sekitar dan sejarah
masalalu?
Pernahkan
menyesali pilihan yang jelas anda sendiri yang menentukan?? Kemudian teringat
peristiwa manis masa lampau yang mungkin belum terpuaskan sehingga objek yang
kita pilih tadi menjadi sasaran untuk disalahkan?? Bukankah harusnya hati yang
bersih menjadi pondasi untuk kita membangun kembali sebuah cerita tanpa
sedikitpun kontaminasi emosi masa lampau? Ketika cerita baru terkontaminasi
emosi masa lalu sangat beresiko terjadi konflik yang berkepanjangan tanpa
adanya penyelesaian, semuanya seolah terulang terus menerus. Kebanyakan dari
kita tidak menyadari bahwa letak keasalahan itu sebenarnya diri kita sendiri
yang tidak pernah menyimpan masa lalu dibelakang punggung layaknya ransel yang
kita pakai (dia akan tetap ada/mengikuti namun hanya jadi pengingat bahwa
disana beriisikan setumpuk buku pelajaran) namun tersimpan disamping, diatas
atau dibawah, jadi ketika hal yang buruk terjadi kita cenderung membandingkan,
menyalahkan tanpa melihat akar permasalahan yang sebenarnya yaitu diri kita
sendiri. Benar memang, tidak ada seorang pun yang ingin disalahkan (setiap
orang mempunyai sudut pandang tersendiri), karena ketika konflik terjadi tidak
mungkin hanya melibatkan satu orang saja, semua orang yang terlibat dalam
konflik tersebut mempunyai peran masing-masing dalam menciptakan konflik
tersebut, tapi mengapa kita tidak mencoba memahami diri sendiri, berbicara
dengan diri sendiri apa yang sebenarnya terjadi, peran apa yang saya ambil
dalam konflik tadi kemudian kembali berbicara.
Jangan
pernah melupakan yang telah terjadi karna ketika kita mencoba atau bahkan
melupakan berarti anda tidak pernah belajar dengan baik dari kejadian tersebut.
Teruslah menjadi individu yang bangga akan pilihannya walau terkadang pilihan kita
menjadi objek caci maki atau pujian karena pilihan tersebut, karena disanalah
menariknya, disanalah kita belajar menentukan sikap dan berani dengan segala
resiko yang akan terjadi sehingga pada akhirnya kita tidak akan menyalahkan
objek yang kita pilih sebagai biang keladi atau menyesali peristiwa lampau yang
terlalu manis untuk dilewatkan.
(Curug Apid,
1-1-2015)
Langganan:
Postingan (Atom)